Diabetes
melitus, DM (bahasa
Yunani: διαβαίνειν, diabaínein, tembus atau pancuran air) (bahasa Latin: mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit
kencing manis adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak
faktor seperti kurangnya insulin
atau ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan insulin (Insulin resistance),
dengan simtoma berupa hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat
dari:
Glukosa adalah bukan gula biasa yang umum tersedia di
toko atau pasar. Glukosa adalah karbo hidrat alamiah yang digunakan tubuh
sebagai sumber energi. Yang banyak dijual adalah sukrosa dan ini sangat
berbeda dengan glukosa. Konsentrasi tinggi dari glukosa dapat ditemukan pada minuman ringan (soft drink)
dan buah-buah tertentu. Kadar gula darah hanya menyiratkan kadar glukosa darah
dan tidak menyatakan kadar fruktosa, sukrosa, maltosa dan laktosa (banyak pada
susu).[3] Yang bukan
glukosa akan dirubah sebagian menjadi glukosa melalui proses yang bisa panjang
tergantung jenisnya, karenanya mungkin tidak cepat menaikkan kadar gula darah.
Buah selain memiliki glukosa juga memiliki fruktosa dengan komposisi yang
berbeda-beda tergantung buahnya. Sukrosa termasuk cepat berubah menjadi
glukosa, tetapi gula batu karena proses pembuatannya berbeda lebih baik dari
gula pasir, sedangkan gula aren dan gula jawa jauh lebih baik bagi penderita
diabetes.
Kadar glukosa pada darah dikendalikan oleh beberapa hormon. Hormon adalah zat
kimia di dalam badan yang mengirimkan tanda pada sel-sel ke sel-sel lainya. Insulin adalah hormon yang
dibuat oleh pankreas. Ketika makan,
pankreas membuat insulin untuk mengirimkan pesan pada sel-sel lainnya di tubuh.
Insulin ini memerintahkan sel-sel untuk mengambil glukosa dari darah. Glukosa
digunakan oleh sel-sel untuk pembuatan energi. Glukosa yang berlebih disimpan
dalam sel-sel sebagai glikogen. Pada saat kadar gula darah mencapai tingkat
rendah tertentu, sel-sel memecah glikogen menjadi glukosa untuk menciptakan
energi.
Berbagai penyakit,
sindrom dan simtoma dapat terpicu oleh
diabetes melitus, antara lain: Alzheimer,
ataxia-telangiectasia, sindrom Down, penyakit
Huntington, kelainan mitokondria, distrofi miotonis, penyakit
Parkinson, sindrom Prader-Willi, sindrom Werner, sindrom Wolfram,[4] leukoaraiosis, demensia,[5] hipotiroidisme, hipertiroidisme, hipogonadisme,[6] dan lain-lain.
Pada tahun 2013, Indonesia memiliki sekitar 8,5 juta
penderita Diabetes yang merupakan jumlah ke-empat terbanyak di Asia dan nomor-7
di dunia.[7] Dan pada tahun
2020, diperkirakan Indonesia akan memiliki 12 Juta penderita diabetes, karena
yang mulai terkena diabetes semakin muda.
Klasifikasi
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes melitus
berdasarkan perawatan dan simtoma:
- Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma
ketoasidosis
hingga rusaknya sel
beta di dalam pankreas yang
disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes melitus dengan patogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada
penggolongan ini.
- Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh
defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom
resistansi insulin
- Diabetes gestasional, yang meliputi gestational
impaired glucose tolerance, GIGT dan gestational diabetes mellitus,
GDM.
dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi:
- Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus
defisiensi peptida-C.
- Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk
mencapai gejala normoglicemia,
jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh.
- Not insulin requiring diabetes.
Kelas empat pada
tahap klinis serupa dengan klasifikasi IDDM (bahasa Inggris: insulin-dependent diabetes mellitus), sedang tahap kelima dan
keenam merupakan anggota klasifikasi NIDDM (bahasa Inggris: non insulin-dependent diabetes mellitus). IDDM dan NIDDM
merupakan klasifikasi yang tercantum pada International Nomenclature of
Diseases pada tahun 1991 dan revisi ke-10 International Classification
of Diseases pada tahun 1992.
Klasifikasi Malnutrion-related
diabetes mellitus, MRDM, tidak lagi digunakan oleh karena, walaupun malnutrisi dapat memengaruhi ekspresi
beberapa tipe diabetes, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa malnutrisi
atau defisiensi protein dapat menyebabkan diabetes. Subtipe MRDM; Protein-deficient
pancreatic diabetes mellitus, PDPDM, PDPD, PDDM, masih dianggap sebagai
bentuk malnutrisi yang diinduksi oleh diabetes melitus dan memerlukan
penelitian lebih lanjut. Sedangkan subtipe lain, Fibrocalculous pancreatic
diabetes, FCPD, diklasifikasikan sebagai penyakit pankreas eksokrin pada lintasan fibrocalculous
pancreatopathy yang menginduksi diabetes melitus.
Klasifikasi Impaired
Glucose Tolerance, IGT, kini didefinisikan sebagai tahap dari cacat
regulasi glukosa, sebagaimana dapat diamati pada seluruh tipe kelainan
hiperglisemis. Namun tidak lagi dianggap sebagai diabetes.
Klasifikasi Impaired
Fasting Glycaemia, IFG, diperkenalkan sebagai simtoma rasio gula darah puasa yang lebih tinggi dari
batas atas rentang normalnya, tetapi masih di bawah rasio yang ditetapkan
sebagai dasar diagnosa diabetes.
Diabetes melitus tipe 1
Diabetes melitus
tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onset diabetes, juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes
mellitus, IDDM)
adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi
darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh
anak-anak maupun orang dewasa.
Sampai saat ini
IDDM tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan diet
maupun olah raga. Kebanyakan penderita diabetes
tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya.
Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal
pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.
Penyebab
terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi
autoimunitas yang menghancurkan sel beta
pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada
tubuh.
Saat ini,
diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan
pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor
pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling
awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis
dan diabetic
ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan
kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan
olahraga.[14] Terlepas dari pemberian injeksi
pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump,
yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat
dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus)
dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk
pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder".
Perawatan
diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan memengaruhi
aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat,
dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa
rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal
(80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l).[butuh rujukan]
Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka
yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah, seperti "frequent
hypoglycemic events".[butuh
rujukan] Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l)
seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu
sering sehingga menyebabkan dehidrasi.[butuh
rujukan] Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l)
biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis.[butuh
rujukan] Tingkat glukosa darah yang rendah, yang
disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan kehilangan kesadaran. Pada orang yang
sudah sepuh, biasanya gula darah sewaktunya dijaga di bawah 200mg/dl saja dan
tidak lebih rendah, karena dikhawatirkan dapat terjadinya 'hipo' atau gula
darah di bawah 100mg/dl, karena misalnya telat makan, makan lebih sedikit dari
biasanya atau terlalu senang dengan aktivitas berlebih dari biasanya.
Saat ini mulai
banyak dilakukan pemberian insulin kepada penderita diabetes type 2 yang secara
terus menerus gula darah sewaktunya selalu di atas 200mg/dl, walaupun telah
diberikan berbagai kombinasi obat oral. Insulin yang diberikan adalah yang
bersifat 'long acting' atau 24 jam sekali dan tetap minum obat oral dengan
dosis yang lebih rendah tiap kali makan besar.
Diabetes melitus tipe 2
Diabetes melitus
tipe 2 (bahasa Inggris:
adult-onset diabetes, obesity-related
diabetes, non-insulin-dependent diabetes mellitus, NIDDM) merupakan tipe diabetes
melitus yang terjadi bukan disebabkan oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan
merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen, termasuk yang mengekspresikan
disfungsi sel β,
gangguan sekresi hormon insulin, resistansi sel terhadap insulin yang disebabkan oleh disfungsi GLUT10 dengan kofaktor hormon resistin yang menyebabkan sel jaringan,
terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta RBP4
yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula
darah oleh hati. Mutasi gen tersebut sering
terjadi pada kromosom 19
yang merupakan kromosom terpadat yang ditemukan pada manusia.
Pada NIDDM
ditemukan ekspresi SGLT1
yang tinggi, rasio RBP4
dan hormon resistin yang tinggi, peningkatan laju metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis pada hati, penurunan laju reaksi
oksidasi dan peningkatan laju reaksi
esterifikasi pada hati].
NIDDM juga dapat
disebabkan oleh dislipidemia, lipodistrofi, dan sindrom
resistansi insulin.
Pada tahap awal
kelainan yang muncul adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang
ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.[butuh
rujukan] Hiperglisemia dapat diatasi dengan obat
anti diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin
atau mengurangi produksi glukosa dari hepar,
namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin berkurang, dan terapi
dengan insulin kadang dibutuhkan.[butuh
rujukan] Ada beberapa teori yang menyebutkan
penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui sebagai faktor predisposisi
terjadinya resistensi terhadap insulin, dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines
itu merusak toleransi glukosa.[butuh
rujukan] Obesitas ditemukan di kira-kira 90% dari
pasien dunia dikembangkan diagnosis dengan jenis 2 kencing manis.[butuh
rujukan] Faktor lain meliputi mengeram dan sejarah
keluarga, walaupun di dekade yang terakhir telah terus meningkat mulai untuk
memengaruhi anak remaja dan anak-anak.[butuh
rujukan]
Diabetes tipe 2
dapat terjadi tanpa ada gejala sebelum hasil diagnosis. Diabetes tipe 2
biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (olahraga), diet (umumnya pengurangan asupan
karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Ini dapat memugar
kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika kerugian berat/beban adalah
rendah hati,, sebagai contoh, di sekitar 5 kg (10 sampai 15 lb), paling
terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk. Langkah yang
berikutnya, jika perlu,, perawatan dengan lisan [[ antidiabetic
drugs. [Sebagai/Ketika/Sebab] produksi hormon insulin adalah
pengobatan pada awalnya tak terhalang, lisan (sering yang digunakan di
kombinasi) kaleng tetap digunakan untuk meningkatkan produksi hormon insulin
(e.g., sulfonylureas) dan mengatur pelepasan/release yang tidak sesuai tentang
glukosa oleh hati (dan menipis pembalasan hormon insulin sampai taraf tertentu
(e.g., metformin), dan pada hakekatnya menipis
pembalasan hormon insulin (e.g., thiazolidinediones). Jika ini gagal, ilmu
pengobatan hormon insulin akan jadilah diperlukan untuk memelihara normal atau
dekat tingkatan glukosa yang normal. Suatu cara hidup yang tertib tentang cek
glukosa darah direkomendasikan dalam banyak kasus, paling terutama sekali dan
perlu ketika mengambil kebanyakan pengobatan.
Sebuah zat
penghambat dipeptidyl peptidase 4 yang disebut sitagliptin,
baru-baru ini diperkenankan untuk digunakan sebagai pengobatan diabetes melitus
tipe 2. Seperti zat penghambat dipeptidyl
peptidase 4 yang lain, sitagliptin akan membuka peluang bagi perkembangan
sel tumor maupun kanker.
Sebuah fenotipe sangat khas ditunjukkan oleh NIDDM
pada manusia adalah defisiensi metabolisme
oksidatif di dalam mitokondria pada otot lurik. Sebaliknya, hormon tri-iodotironina menginduksi biogenesis di
dalam mitokondria dan meningkatkan sintesis ATP sintase pada kompleks V,
meningkatkan aktivitas sitokrom c oksidase
pada kompleks IV, menurunkan spesi oksigen
reaktif, menurunkan stres oksidatif, sedang hormon melatonin akan meningkatkan produksi ATP di
dalam mitokondria serta meningkatkan aktivitas respiratory chain,
terutama pada kompleks I, III dan IV. Bersama dengan insulin, ketiga hormon ini membentuk siklus
yang mengatur fosforilasi
oksidatif mitokondria di dalam otot lurik. Di sisi lain, metalotionein
yang menghambat aktivitas GSK-3beta
akan mengurangi risiko defisiensi otot jantung pada penderita diabetes.
Simtoma yang terjadi pada NIDDM dapat
berkurang dengan dramatis, diikuti dengan pengurangan berat tubuh, setelah
dilakukan bedah bypass usus. Hal ini diketahui sebagai akibat dari
peningkatan sekresi hormon inkretin, namun para ahli belum dapat
menentukan apakah metoda ini dapat memberikan kesembuhan bagi NIDDM dengan
perubahan homeostasis glukosa.
Pada terapi
tradisional, flavonoid yang mengandung senyawa hesperidin
dan naringin,
diketahui menyebabkan:
sedang naringin
sendiri, menurunkan transkripsi mRNA fosfoenolpiruvat karboksikinase dan glukosa-6
fosfatase di dalam hati.
Hesperidin
merupakan senyawa organik yang banyak ditemukan pada buah jenis jeruk,
sedang naringin banyak ditemukan pada buah jenis anggur.
Diabetes melitus
tipe 2 dapat dicegah atau diperlambat munculnya dengan mengembangkan Pola Hidup
Sehat:[39]
- Pola makan sehat dengan memperbanyak
konsumsi sayur dan buah
- Olahraga 3 kali dalam seminggu,
masing-masing setidaknya 20 menit
- Jaga berat badan ideal
- Menghindari rokok
- Mengurangi asupan alkohol
Pria dengan berat
badan normal risikonya 70 persen lebih rendah daripada yang obes, sedangkan
wanita dengan berat badan normal risikonya 78 persen lebih rendah daripada yang
obes. Lakukanlah selalu Tes Gula Darah, karena seseorang yang terdiagnosis
mulai Prediabetes, tetapi segera melakukan Perubahan Gaya Hidupnya, maka ia
akan terhindar dari Diabetes melitus tipe 2 atau setidaknya memperlambat
munculnya Dibetes melitus tipe 2.
Diabetes melitus tipe 3
Diabetes
melitus gestasional
(bahasa Inggris: gestational diabetes, insulin-resistant type 1 diabetes, double diabetes,
type 2 diabetes which has progressed to require injected insulin, latent
autoimmune diabetes of adults, type 1.5" diabetes, type 3 diabetes, LADA) atau diabetes melitus
yang terjadi hanya selama kehamilan dan pulih setelah melahirkan, dengan
keterlibatan interleukin-6 dan
protein
reaktif C pada lintasan patogenesisnya. GDM mungkin dapat merusak
kesehatan janin atau ibu, dan sekitar 20–50% dari wanita penderita GDM bertahan
hidup.[butuh
rujukan]
Diabetes melitus pada
kehamilan terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM bersifat temporer
dan dapat meningkat maupun menghilang setelah melahirkan. GDM dapat
disembuhkan, namun memerlukan pengawasan medis yang cermat selama masa
kehamilan.
Meskipun GDM
bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan
kesehatan janin maupun sang ibu. Risiko yang dapat dialami oleh bayi meliputi
makrosomia (berat bayi yang tinggi/diatas normal), penyakit jantung bawaan dan
kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka. Peningkatan hormon insulin
janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom
gangguan pernapasan. Hyperbilirubinemia dapat terjadi akibat kerusakan sel
darah merah. Pada kasus yang parah, kematian sebelum kelahiran dapat terjadi,
paling umum terjadi sebagai akibat dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan
vaskular. Induksi kehamilan dapat diindikasikan dengan menurunnya fungsi
plasenta. Operasi sesar dapat akan dilakukan bila ada tanda bahwa janin dalam
bahaya atau peningkatan risiko luka yang berhubungan dengan makrosomia, seperti
distosia bahu.
Patofisiologi
Kemungkinan induksi diabetes tipe 2 dari berbagai macam
kelainan hormonal, seperti hormon sekresi kelenjar adrenal, hipofisis dan tiroid merupakan studi pengamatan yang sedang laik daun saat
ini. Sebagai contoh, timbulnya IGT dan diabetes melitus sering disebut terkait
oleh akromegali dan hiperkortisolisme atau sindrom Cushing.
Hipersekresi hormon GH pada akromegali dan
sindrom Cushing sering berakibat pada resistansi insulin, baik pada hati dan organ lain, dengan simtoma hiperinsulinemia dan hiperglisemia, yang
berdampak pada penyakit
kardiovaskular dan berakibat kematian.
GH
memang memiliki peran penting dalam metabolisme glukosa dengan menstimulasi glukogenesis dan lipolisis, dan meningkatkan kadar glukosa darah dan asam lemak. Sebaliknya, insulin-like
growth factor 1 (IGF-I) meningkatkan kepekaan terhadap insulin, terutama
pada otot lurik. Walaupun
demikian, pada akromegali, peningkatan rasio IGF-I tidak dapat menurunkan
resistansi insulin, oleh karena berlebihnya GH.
Terapi dengan somatostatin dapat meredam
kelebihan GH pada sebagian banyak orang, tetapi karena juga menghambat sekresi
insulin dari pankreas, terapi ini akan
memicu komplikasi pada toleransi glukosa.
Sedangkan hipersekresi hormon kortisol pada
hiperkortisolisme yang menjadi penyebab obesitas viseral,
resistansi insulin, dan dislipidemia, mengarah pada hiperglisemia dan turunnya
toleransi glukosa, terjadinya resistansi insulin, stimulasi glukoneogenesis dan glikogenolisis. Saat
bersinergis dengan kofaktor hipertensi,
hiperkoagulasi, dapat meningkatkan risiko
kardiovaskular.
Hipersekresi hormon juga terjadi pada kelenjar tiroid berupa tri-iodotironina dengan hipertiroidisme yang
menyebabkan abnormalnya toleransi glukosa.
Pada penderita tumor neuroendokrin, terjadi perubahan
toleransi glukosa yang disebabkan oleh hiposekresi insulin, seperti yang
terjadi pada pasien bedah pankreas, feokromositoma, glukagonoma dan somatostatinoma.
Hipersekresi hormon ditengarai juga menginduksi diabetes
tipe lain, yaitu tipe 1. Sinergi hormon berbentuk sitokina, interferon-gamma dan TNF-α, dijumpai membawa sinyal apoptosis bagi sel beta, baik in vitro maupun in vivo. Apoptosis sel
beta juga terjadi akibat mekanisme Fas-FasL, dan/atau
hipersekresi molekul sitotoksik, seperti
granzim dan perforin;
selain hiperaktivitas sel T CD8-
dan CD4-.
Komplikasi
Komplikasi jangka lama termasuk penyakit
kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal
(penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat
menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf dan pembuluh darah yang dapat
menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang
lebih serius lebih umum terjadi, bila kontrol kadar gula darah buruk.
Komplikasi berarti beberapa organ dan fungsi tubuh terganggu sekaligus.
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemkes RI,
penderita diabetes dapat mengalami komplikasi sebagai berikut: 50.9 persen
mengalami penurunan fungsi seksual, 30.6 persen refleks tubuhnya terganggu,
29.3 persen retinanya terganggu (retinopati diabetik), 16.3 persen mengalami
katarak awal (lebih cepat terjadi dari umur seharusnya). 50 persen penderita
diabetes akan meninggal, karena penyakit kardiovaskuler.
Ketoasidosis
diabetikum
Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara
tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut
dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi
karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka
sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan
menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan
darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum
adalah rasa haus dan sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut
(terutama pada anak-anak). Pernapasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh
berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau napas penderita tercium seperti
bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi
koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam. Bahkan setelah mulai menjalani
terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika
mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat
infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius. Penderita diabetes tipe II bisa
tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin
parah, maka timbullah gejala yang berupa sering kencing dan haus. Jarang
terjadi ketoasidosis.[butuh rujukan] Jika kadar gula darah sangat
tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya
infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang
bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang
disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.[butuh rujukan]
Hipoglikemi
Retinopathy
diabetes
Retinopathy diabetes adalah terganggunya Retina Mata,
karena kaku dan rapuhnya pembuluh darah retina, karena adanya diabetes.
Akibatnya pembuluh darah dapat pecah atau sebaliknya menjadi tersumbat dan
membentuk pembuluh darah baru. Retinopathy diabetes biasanya tanpa gejala
apapun, oleh karenanya penderita diabetes seharusnya memeriksakan matanya
sedikitnya sekali setahun. Jika melihat seolah-olah ada benda terbang
melayang-layang atau pandangan kabur atau malah hilang sama sekali (1 mata),
segeralah berobat, karena dipastikan terjadi robek atau bahkan lepasnya
sebagian/seluruh retina. Hampir semua Klinik Mata dan Rumah Sakit Mata yang
memiliki bagian Retina atau lebih khusus lagi bagian Retinopathy Diabetes
memiliki alat Photo Fundus (Funduscopy) atau yang lebih canggih lagi yang dapat
mengetahui adanya gangguan pada Retina dan bila ditemukan gangguan yang
significant, maka akan diadakan Laser terhadap Retina tersebut selama kurang
lebih 20 menit. Biaya Funduscopy relatif murah, tetapi biaya Laser agak tinggi.
8 persen dari penderita diabetes type apapun akan mengalami risiko kebutaan
pada masa tuanya.