Patofisiologi
Patofisiologi
Kemungkinan induksi diabetes tipe 2 dari berbagai macam
kelainan hormonal, seperti hormon sekresi kelenjar adrenal, hipofisis dan tiroid merupakan studi pengamatan yang sedang laik daun saat
ini. Sebagai contoh, timbulnya IGT dan diabetes melitus sering disebut terkait
oleh akromegali dan hiperkortisolisme atau sindrom Cushing.
Hipersekresi hormon GH pada akromegali dan
sindrom Cushing sering berakibat pada resistansi insulin, baik pada hati dan organ lain, dengan simtoma hiperinsulinemia dan hiperglisemia, yang
berdampak pada penyakit
kardiovaskular dan berakibat kematian.
GH
memang memiliki peran penting dalam metabolisme glukosa dengan menstimulasi glukogenesis dan lipolisis, dan meningkatkan kadar glukosa darah dan asam lemak. Sebaliknya, insulin-like
growth factor 1 (IGF-I) meningkatkan kepekaan terhadap insulin, terutama
pada otot lurik. Walaupun
demikian, pada akromegali, peningkatan rasio IGF-I tidak dapat menurunkan
resistansi insulin, oleh karena berlebihnya GH.
Terapi dengan somatostatin dapat meredam
kelebihan GH pada sebagian banyak orang, tetapi karena juga menghambat sekresi
insulin dari pankreas, terapi ini akan
memicu komplikasi pada toleransi glukosa.
Sedangkan hipersekresi hormon kortisol pada
hiperkortisolisme yang menjadi penyebab obesitas viseral,
resistansi insulin, dan dislipidemia, mengarah pada hiperglisemia dan turunnya
toleransi glukosa, terjadinya resistansi insulin, stimulasi glukoneogenesis dan glikogenolisis. Saat
bersinergis dengan kofaktor hipertensi,
hiperkoagulasi, dapat meningkatkan risiko
kardiovaskular.
Hipersekresi hormon juga terjadi pada kelenjar tiroid berupa tri-iodotironina dengan hipertiroidisme yang
menyebabkan abnormalnya toleransi glukosa.
Pada penderita tumor neuroendokrin, terjadi perubahan
toleransi glukosa yang disebabkan oleh hiposekresi insulin, seperti yang
terjadi pada pasien bedah pankreas, feokromositoma, glukagonoma dan somatostatinoma.
Hipersekresi hormon ditengarai juga menginduksi diabetes
tipe lain, yaitu tipe 1. Sinergi hormon berbentuk sitokina, interferon-gamma dan TNF-α, dijumpai membawa sinyal apoptosis bagi sel beta, baik in vitro maupun in vivo. Apoptosis sel
beta juga terjadi akibat mekanisme Fas-FasL, dan/atau
hipersekresi molekul sitotoksik, seperti
granzim dan perforin;
selain hiperaktivitas sel T CD8-
dan CD4-.
Komplikasi
Komplikasi jangka lama termasuk penyakit
kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal
(penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat
menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf dan pembuluh darah yang dapat
menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang
lebih serius lebih umum terjadi, bila kontrol kadar gula darah buruk.
Komplikasi berarti beberapa organ dan fungsi tubuh terganggu sekaligus.
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemkes RI,
penderita diabetes dapat mengalami komplikasi sebagai berikut: 50.9 persen
mengalami penurunan fungsi seksual, 30.6 persen refleks tubuhnya terganggu,
29.3 persen retinanya terganggu (retinopati diabetik), 16.3 persen mengalami
katarak awal (lebih cepat terjadi dari umur seharusnya). 50 persen penderita
diabetes akan meninggal, karena penyakit kardiovaskuler.
Ketoasidosis
diabetikum
Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara
tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut
dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi
karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka
sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan
menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan
darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum
adalah rasa haus dan sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut
(terutama pada anak-anak). Pernapasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh
berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau napas penderita tercium seperti
bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi
koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam. Bahkan setelah mulai menjalani
terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika
mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat
infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius. Penderita diabetes tipe II bisa
tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin
parah, maka timbullah gejala yang berupa sering kencing dan haus. Jarang
terjadi ketoasidosis.[butuh rujukan] Jika kadar gula darah sangat
tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya
infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang
bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang
disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.[butuh rujukan]
Hipoglikemi
Retinopathy
diabetes
Retinopathy diabetes adalah terganggunya Retina Mata,
karena kaku dan rapuhnya pembuluh darah retina, karena adanya diabetes.
Akibatnya pembuluh darah dapat pecah atau sebaliknya menjadi tersumbat dan
membentuk pembuluh darah baru. Retinopathy diabetes biasanya tanpa gejala
apapun, oleh karenanya penderita diabetes seharusnya memeriksakan matanya
sedikitnya sekali setahun. Jika melihat seolah-olah ada benda terbang
melayang-layang atau pandangan kabur atau malah hilang sama sekali (1 mata),
segeralah berobat, karena dipastikan terjadi robek atau bahkan lepasnya
sebagian/seluruh retina. Hampir semua Klinik Mata dan Rumah Sakit Mata yang
memiliki bagian Retina atau lebih khusus lagi bagian Retinopathy Diabetes
memiliki alat Photo Fundus (Funduscopy) atau yang lebih canggih lagi yang dapat
mengetahui adanya gangguan pada Retina dan bila ditemukan gangguan yang
significant, maka akan diadakan Laser terhadap Retina tersebut selama kurang
lebih 20 menit. Biaya Funduscopy relatif murah, tetapi biaya Laser agak tinggi.
8 persen dari penderita diabetes type apapun akan mengalami risiko kebutaan
pada masa tuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar